Pengamat properti dari IPW, Ali Tranghanda memaparkan hambatan dari penjualan properti yang belum menunjukkan peningkatan, di Hall Emperium Pluit Mal Jakarta, Rabu (23/11). Foto: Rumah123/Ade Miranti

Pengamat properti dari IPW, Ali Tranghanda, menjadi narasumber di Hall Emperium Pluit Mall, Jakarta, Rabu (23/11). Foto: Rumah123/Ade Miranti

Pengamat properti dari Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, mengatakan, kondisi perekonomian Indonesia sejak 2014 hingga sekarang, melambat. Pemerintah berupaya menggerakkan dan mempercepat roda perekonomian melalui stimulus-stimulus. Diharapkan tahun depan (2017) sektor properti akan benar-benar bergairah.

Meskipun perekonomian masih lesu, tapi para agen properti tetap berusaha untuk menjual unit. Secara fisik, jumlah unit hunian memang meningkat, tetapi penjualannya menurun.

“Primadona pasar saat ini Rp500 juta sampai Rp1 miliar. Begitu juga dengan harga rumah untuk menengah ke bawah,” ucapnya pada event sekaligus Rakernas Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) di Emperium Pluit Mall, Jakarta, Rabu (23/11).

Baca juga: Investor Asing Bisa Ikut Meningkatkan Pasar Properti Dalam Negeri

Bagaimana dengan harga di atas Rp1 miliar?

“Ada para agen properti menanyakan kepada saya, apa sudah bisa berjualan untuk harga lebih dari Rp1 miliar, saya bilang jangan dulu. Tunggu dulu kondisi setelah pemilihan gubernur (Pilgub) Februari nanti atau Juni saat pengumuman hasil Pilgub,” ujar Ali.

Dia tahu para pengembang terdesak oleh harga tanah yang merangkat naik dan mulai mahal. Jadi, inginnya membangun hunian sekarang-sekarang saja.

Baca juga: Dana Repatriasi Bisa Dongkrak Pasar Properti Minimal 50 Persen

Ali menyebutkan, meski sektor pertambangan mulai pulih sekitar 9 persen. Tetapi, belum berimbas pada peningkatan penjualan properti.

Begitu pula tax amnesty (TA) yang sudah memasuki periode kedua. Ali memproyeksikan, tahun depan dana TA Rp150 triliun yang dialirkan akan masuk 60 persen ke sektor properti. (Wit)

author-gravatar

Author: admin

Admin